“MANCA” untuk Literasi yang Menyenangkan

Oleh: M. Deny Effendy Tambusay dan Windy Niskya Rahmi Harefa

Pada umumnya, literasi diartikan sebagai kemampuan baca, tulis, dan pemahaman terhadap satu masalah. Menurut Lestari, dkk. (2021), literasi merupakan proses pembelajaran yang dilakukan secara komprehensif untuk mengidentifikasi, memahami informasi, berkomunikasi, dan menghitung menggunakan bahan cetak dan tertulis dengan berbagai konteks.

Lalu, pernahkah kita berpikir bagaimana dunia tanpa literasi? Mungkin, bagai sebuah tempat, hanya akan ada kegelapan, hitam tanpa penerang. Bagaimana tidak? dengan literasi, seseorang dapat memperkaya kosakata, mengoptimalkan kinerja otak (sebab sering digunakan untuk menulis dan membaca), memperluas wawasan dan memeroleh informasi terbaru, meningkatkan kemampuan interpersonal seseorang, meningkatkan kemampuan memahami informasi dari bahan bacaan, mengasah kemampuan verbal, memperbaiki kepekaan terhadap informasi dari berbagai media, serta melatih diri untuk bisa merangkai kata dengan baik.

Data dari Badan Pusat Statistik (BSP) menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2023 sebanyak 278,69 juta jiwa. Namun sangat disayangkan, hal ini berbanding terbalik dengan jumlah minat bacanya. Dilansir dari data UNESCO, hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Hal itu berarti, dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang suka dan aktif membaca. Selain itu, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Program of International Student Assessment (PISA) pada tahun 2019, minat baca Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara. Dengan kata lain, Indonesia masuk dalam bagian 10 negara yang memiliki tingkat literasi terendah di antara negara-negara yang disurvei.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) mengatakan, khusus di Sumatera Utara, tingkat literasi pada tahun 2022 mencapai 51,69%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar 37,96%, dan tahun 2016 sebesar 31,30%. Meski demikian, ini bukanlah suatu hal yang terlalu membahagiakan dan membuat kita mengangkat kepala seolah tidak acuh dengan apa yang akan terjadi dengan proses selanjutnya.

Tentunya kita bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut Rusti (2023), beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan literasi di Indonesia adalah

1. Kurangnya Minat Membaca

Minat didefinisikan sebagai perasaan suka dan tertarik terhadap sesuatu. Sedangkan membaca, memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan aktivitas otak, menambah pengetahuan, dan mengasah daya ingat. Sehingga, dengan berkurangnya minat baca, berkurang pula sistem kerja otak dalam memahami suatu masalah.

2. Saran dan Prasarana yang Kurang Memadai

Fasilitas atau sarana dan prasarana yang disediakan, sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca. Sarana dan prasarana yang dimaksud adalah perpustakaan, taman baca masyarakat, dan ketersediaan buku-buku bacaan. Benar bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam mendukung program Merdeka Belajar Ke-23 telah membagikan buku bacaan di seluruh Indonesia dalam bentuk buku bacaan bermutu. Namun, siapa yang dapat menjamin bahwa buku-buku tersebut akan sampai di pelosok negeri? Harus diakui bahwa Indonesia masih memiliki keterbatasan, terutama akses ke wilayah pedesaan.

3. Kemiskinan dan Hubungan dalam Keluarga

Peran penting keluarga sangat dibutuhkan untuk peningkatan literasi dari rumah. Peran yang dimaksud, bisa diberikan keluarga dalam bentuk kasih sayang, memberikan nasihat, dan diskusi tentang apa yang telah dilakukan anak. Sebaliknya, jika hubungan dalam keluarga tidak harmonis, juga akan berdampak pada anak. Terkait dengan itu, peran orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Kurangnya perhatian orang tua juga dapat memengaruhi kemampuan membaca, menulis, bernalar, dan juga berhitung. Selain itu, perlu juga dipahami bahwa kemiskinan juga berpengaruh pada rendahnya tingkat literasi. Karena, kemiskinan mengakibatkan keluarga tidak mampu menyediakan buku dan sarana belajar lainnya.

4. Pengaruh Ponsel dan Televisi

Sebagai sarana hiburan, televisi memegang peran yang sangat penting. Menonton televisi sudah menjadi rutinitas yang dilakukan banyak orang sehingga kebiasaan membaca menjadi menurun. Saat ini, kemajuan teknologi bahkan telah menciptakan alat baru yang sangat berguna, mudah, bahkan menghibur, dalam bentuk ponsel. Ponsel tidak bisa lepas dari genggaman. Bukan hanya orang tua, anak-anak juga menggunakannya. Ponsel menawarkan banyak tayangan dan fitur, seperti permainan, youtube, tiktok dan lain sebagainya, sehingga menggeser minat seseorang terhadap kegiatan membaca buku. Hal ini tentu saja berdampak pada kemampuan literasi.

5. Kualitas Pendidikan dan Model Pembelajaran di Sekolah

Kualitas pendidikan yang beragam di setiap daerah juga menjadi faktor penting yang memengaruhi literasi. Kurangnya tenaga pendidik yang berkualitas serta model pembelajaran yang tidak efektif, merupakan kendala yang harus dicarikan solusinya. Metode mengajar, prosedur, dan kemampuan guru merupakan alat utama untuk mewujudkan tujuan pembelajaran.

“Banyak jalan menuju Roma”, begitu bunyi sebuah pepatah yang didefinisikan ‘jika ingin mendapatkan sesuatu, banyak cara untuk mencapainya’. Maka, beberapa faktor penyebab di atas mendorong kami untuk bergerak dan membuat perubahan. Untuk mengatasi berbagai permasalahan literasi di Indonesia, diperlukan berbagai upaya yang komprehensif, di antaranya menerapkan kegiatan literasi yang efektif dan menarik perhatian, menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang peningkatan literasi, melakukan kolaborasi dengan para orang tua untuk pembiasaan membaca, serta melakukan model pembelajaran yang tidak membosankan.

Fakta yang kami temukan saat observasi menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya Kota Medan, memiliki kebiasaan. Setiap akhir pekan, tepatnya hari Minggu, mereka sering berkumpul bersama keluarga di taman kota. Mungkin hanya sekadar melepas kepenatan setelah satu minggu melakukan kegiatan rutin seperti sekolah, bekerja, atau malah di rumah saja. Atas semua permasalahan yang tuliskan di atas, kami menawarkan solusi dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat, berupa sebuah program yang kami beri nama MANCA, akronim dari Bermain sambil Membaca. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai langkah awal pembiasaan membaca buku secara menyenangkan kepada masyarakat, khususnya anak-anak, sekaligus untuk menarik perhatian mereka dari ponsel yang sering dimainkan.

Kami percaya bahwa, seseorang akan menekuni apa yang ia cintai. Strategi yang kami lakukan untuk memulai kecintaan terhadap buku, salah satunya adalah dengan membacakan nyaring (Read Aloud) kepada anak-anak. Membacakan nyaring merupakan sebuah aktivitas membacakan buku dengan menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh anak serta menggunakan intonasi dan ekspresi yang menggambarkan isi cerita sehingga anak tertarik untuk mendengarkan, menyimak, fokus, merasa senang, berimajinasi tentang isi cerita, dan akhirnya mendapatkan pengetahuan baru.

Luthfi dalam laman Kementrian Keuangan Republik Indonesia (2020), menuliskan bahwa membacakan nyaring juga bermanfaat pada perkembangan psikologis anak. Cerita anak-anak yang dibacakan dengan cara dan situasi yang menyenangkan, akan meningkatkan rasa ingin tahu anak terhadap cerita-cerita selanjutnya. Dalam pikirannya, mereka akan membayangkan latar, tokoh, dan kejadian-kejadian yang disebutkan dalam cerita sehingga kreativitas dan daya imajinasinya akan semakin berkembang.

Sebagai salah satu program rutin yang dilakukan, pada episode kali ini, kami melaksanakan MANCA di Taman Ahmad Yani, Medan, Sumatera Utara. Seperti namanya, MANCA bukan hanya sekadar kegiatan membaca, melainkan juga bermain. Kami mengajak anak-anak untuk bermain. Permainan yang kami suguhkan adalah Kereta Bahasa. Dalam permainan ini, anak diajak bermain kereta bahasa. Kemudian, di tengah permainan anak diberikan kuis seputar kebahasaan. Dengan demikian, permainan ini bukan hanya sekadar bermain dan tertawa, melainkan juga dapat menambah pengetahuan anak tentang kebahasaan dengan cara yang menyenangkan.

Kegiatan MANCA ini mendapatkan umpan balik yang cukup positif, baik dari anak-anak, maupun dari orang dewasa. Hal ini dapat terlihat dari antusiasme anak yang menanyakan tentang kapan kegiatan MANCA dilaksanakan kembali. Selain itu, berdasarkan hasil observasi dan akhir pelaksanaan, kami mendapati 14 dari 20 anak-anak memberikan respons yang sangat positif. Mereka yang semula tampak tidak bersemangat, setelah mengikuti MANCA, secara antusias menanyakan apakah kegiatan ini akan berlanjut atau tidak. Hal ini tentunya menjadi kabar membahagiakan bagi kami. Belum lagi, tanggapan dari dari salah satu orang tua, Bapak Erwin, yang mengatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat baik bagi masyarakat, terutama anak-anak. Beliau juga berharap supaya kegiatan MANCA bisa mengepakkan sayap lebih luas dan menyentuh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Utara.

Sebagai generasi muda yang masih dalam tahap belajar, kami sangat senang bisa memberikan dampak baik bagi masyarakat sekitar dalam peningkatan literasi dengan cara yang menyenangkan. Dalam persiapan pelaksanaan kegiatan ini, kami tentunya membutuhkan keluangan waktu demi persiapan yang matang di tengah kesibukan kami yang sebagian besar adalah mahasiswa. Akan tetapi, semua dapat kami lakukan dengan baik. Kami percaya bahwa sesuatu yang tampak kecil akan berdampak besar, asal dilakukan dengan hati yang lapang.

Buku dan membaca adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tak akan berarti sebuah buku tanpa ditelaah, tiada guna membaca tanpa segenggam kertas dan ilmunya.

(Duta Bahasa Sumatera Utara Tahun 2023)

DAFTAR PUSTAKA

Lestari, Frita Dwi, dkk. 2021. Pengaruh Budaya Literasi terhadap Hasil Belajar IPA di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu. 5(6): 5087—5099.

Rusti, Reliavirli Rusti. 2023. Analisis Faktor Penyebab Rendahnya Kemampuan Literasi Siswa Kelas 5 Di SDN 1 Kalibunder. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. 6(1): 2655-6022.

“MANCA” untuk Literasi yang Menyenangkan Read More »

SEMINAR BIPA “STRATEGI DAN PERAN PENGAJAR BIPA DALAM PENGINTERNASIONALAN BAHASA INDONESIA”

Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara melaksanakan seminar BIPA pada 5 Juli 2023 di Hotel J.W. Marriott, Medan. Seminar bertopik “Strategi dan Peran Pengajar BIPA dalam Penginternasionalan Bahasa Indonesia”. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas lembaga dalam rangka mengawal regulasi, koordinasi, dan fasilitasi ke-Bipa-an khususnya di wilayah Sumatera Utara. Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu unit pelaksana Teknis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang memiliki tugas untuk mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra serta meningkatkan status bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Peningkatan status bahasa Indonesia ini menjadi satu dari tiga program prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) mempunyai peran penting dan strategis dalam memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional. Berbagai upaya strategis telah dilakukan untuk meningkatkan jati diri dan martabat bangsa Indonesia serta menjadikan bahasa Indonesia sebagai kebanggaan bagi penutur asing di luar negeri. Antusiasme warga dunia untuk mempelajari Bahasa Indonesia semakin terlihat dari Program BIPA.

Sampai akhir tahun 2022, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek telah memfasilitasi lembaga penyelenggara program BIPA sebanyak 185 lembaga di 52 negara dengan total 150.290 pemelajar dan 307 penugasan pengajar. Angka tersebut menjadi bukti bahwa minat warga asing terhadap bahasa Indonesia terus meningkat di berbagai belahan dunia. Capaian tersebut tidak terlepas dari hasil koordinasi antara Badan Bahasa dan berbagai pihak, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Badan Bahasa melalui Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara sebagai unit pelaksana teknis melaksanakan koordinasi penyusunan kebijakan di bidang bahasa dan sastra perlu memastikan adanya partisipasi publik dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Hal tersebut sangat penting karena masyarakat sebagai subjek dan pelaku kebahasaan memiliki pengalaman dan pemahaman yang unik tentang bahasa dan kebutuhan bahasa mereka, termasuk bagaimana bahasa itu dikelola untuk dibawa ke ranah global. Untuk itu, diperlukan berbagai ikhtiar untuk mewujudkannya.

Pelayanan profesional program BIPA bagi lembaga di wilayah Unit Pelaksana Teknis (UPT) balai/kantor bahasa di Indonesia dapat dilaksanakan melalui tiga model kegiatan, yaitu bimbingan teknis, forum ilmiah, dan pemasyarakatan. Pemfokusan layanan profesional program BIPA di wilayah kerja UPT melalui tiga model kegiatan tersebut bertujuan memprioritaskan peran balai/kantor bahasa sebagai pengelola kegiatan koordinasi dan fasilitasi pengembangan program BIPA di dalam negeri. Berdasarkan kondisi yang dipaparkan di atas, perlu adanya forum ilmiah keBIPA-an yang dilaksanakan melalui fasilitasi penyelenggaraan seminar ilmiah ke-BIPA-an di Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan seminar ini merupakan rangkaian kegiatan fasilitasi lembaga penyelenggara BIPA yang diawali bimbingan teknis peningkatan kompetensi pengajar BIPA Sumatera Utara pada tanggal 20—21 Februari 2023. Sebagai tindak lanjut seminar ini akan dilakukan kooordinasi antarlembaga yang melibatkan lembaga penyelenggara BIPA, pegiat dan pengajar BIPA, pemerintah daerah, dan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara.

Seminar BIPA pada hari ini mengangkat topik “Strategi dan Peran Pengajar Bipa dalam Penginternasionalan Bahasa Indonesia” yang diikuti 100 peserta dari perwakilan berbagai lembaga BIPA, kampus perguruan tinggi, pengajar dan pegiat BIPA, para mahasiswa pemelajar BIPA, dan mahasiswa Indonesia yang telah mendapat mata kuliah ke-BIPA-an. Seminar ini menghadirkan narasumber dari berbagai pemangku kepentingan; yaitu Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang diwakili oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Dr. H. Agus Tripriyono, Koordinator Kerja Sama APPBIPA Pusat, Ibu Paulina Chandrasari Kusuma, M. Hum., dan Pengajar dari UN Migration Indonesia Internasioanl Migration Organization, Ibu Nurul Nayla Azmi Dalimunthe, M.Si.

Diharapkan forum ilmiah ini dapat menjadi pertemuan ilmiah dalam menampung ide dan pikiran baru sebagai upaya untuk mempercepat partisipasi publik dalam penginternasionalan bahasa Indonesia. Misi ini harus diperkuat oleh semua pemangku kepentingan karena telah diamanatkan dalam Pasal 44 UU RI No. 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan “Pemerintah meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan.

SEMINAR BIPA “STRATEGI DAN PERAN PENGAJAR BIPA DALAM PENGINTERNASIONALAN BAHASA INDONESIA” Read More »

Rapat Koordinasi Antarinstansi di Sumatera Utara Upaya Program Revitalisasi Bahasa Daerah Berkelanjutan

Rapat Koordinasi Antarinstansi Revitalisasi Bahasa Daerah di Sumatera Utara dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara pada 17 Maret 2023 di Grand Kanaya, Medan. Rakor ini dilaksanakan untuk menjalin dukungan dan komitmen antarinstansi dalam menjaga dan merevitalisasi bahasa daerah di Sumatera Utara yang pada tahun 2023 memasuki tahun kedua. Kegiatan ini dihadiri oleh pemangku kepentingan pusat dan daerah,  di antaranya perwakilan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Asisten Dua Bupati Tapanuli Tengah, Wakil Ketua DPRD Humbanghasundutan, sejumlah Kepala Dinas Pendidikan  Kabupaten/Kota dan perwakilan dari tiga belas kabupaten/kota baik dari unsur DPRD maupun dinas pendidikan.  Hadir pula , akademisi, Prof. Amrin Saragih, M. A., Ph.D, DTEFL dan tentu Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara sebagai tuan rumah.

Setelah penandatanganan komitmen bersama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah tentang Program Merdeka Belajar Episode – 17, acara dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghargaan dari pemerintah daerah kepada Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara serta penyerahan plakat dari Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara kepada Pemerintah Daerah.

Selanjutnya, paparan mengenai revitalisasi bahasa daerah diberikan oleh perwakilan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Saiful Bahri Lubis, M. Hum. Dalam paparan ini perwakilan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menekankan pentingnya dukungan dari Pemerintah Daerah dan DPRD dari setiap kabupaten/kota dalam Program Revitalisasi Bahasa Daerah tersebut. Hal tersebut didukung oleh paparan akademisi, Prof. Amrin Saragih, M. A., Ph. D., DTEFL yang menguatkan pentingnya gotong royong dalam program bersama ini.

Kemudian pada sesi pernyataan dari pemerintah daerah, lima pemerintah daerah yang telah melakukan  Revitalisasi Bahasa Daerah, memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara yang telah mengadakan Revitalisasi Bahasa Daerah di tempat mereka. Mereka merasakan dampak yang positif dari kegiatan tersebut. Pihak pemerintah daerah akan meneruskan program pada tahun ini dengan tambahan kebijakan penganggaran. Tanggapan selanjutnya datang dari  delapan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang akan melakukan Revitalisasi Bahasa Daerah pada 2023 dan merupakan program baru di daerahnya, menyatakan siap mendukung acara tersebut agar terselenggara dengan sebaik-baiknya. Semoga kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah anggaran tahun 2023 dapat terlaksana dengan hasil yang maksimal.

Rapat Koordinasi Antarinstansi di Sumatera Utara Upaya Program Revitalisasi Bahasa Daerah Berkelanjutan Read More »

Melacak Naskah-naskah Berbahasa Batak

Sesungguhnya kekuatan akar bahasa nasional dipelihara oleh kebinekaan bahasa daerah di Indonesia. Oleh karena itu, pemertahanan kebinekaan bahasa daerah merupakan program primer Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, termasuk melalui UPT Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU). Selain dengan meningkatkan produk bahan bacaan berbahasa daerah, BBPSU juga berupaya melacak naskah-naskah berbahasa daerah yang sudah diterbitkan di masa lampau. Melalui pelaksana KKLP Penerjemahan, naskah-naskah tersebut akan diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kerja terjemahan ini juga hadir sebagai upaya merawat bahasa daerah sekaligus membuka ruang-ruang kearifan lokal untuk dikenal dan dipahami secara luas.

Kabupaten Tapanuli Utara (Tarutung) dan Kabupaten Toba (Balige) merupakan dua titik lokasi yang dituju tim KKLP Penerjemahan, tanggal 5 s.d. 10 Februari 2023. Yolferi, S.S., M.Hum selaku koordinator (dibantu Dr. Tomson Sibarani, S.S., M.Hum., dan Hasan Al Banna, S.Pd.) bergerilya menggali informasi dan mencari naskah-naskah budaya berbahasa Batak Toba di dua daerah tersebut. Banyak pihak yang memberi kemudahan bagi tim KKLP Penerjemahan BBPSU, baik lembaga pemerintahan maupun tokoh budaya, mulai dari pemangku kepentingan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah sampai kepada penulis lokal. Berbagai jenis buku pun berpindah tangan kepada tim BBPSU. Tersebutlah sejumlah buku terkait adat-istiadat, sejarah marga-marga, pantun dan cerita lama, serta fiksi modern.

Oleh karena itu, tim BBPSU patut berterima kasih kepada Kartini Eva Christina Nahampun (Dinas Perpustakaan Daerah dan Arsip Kabupaten Tapanuli Utara), Uli Basa Simanjuntak (Dinas Perpustakaan Daerah dan Arsip Kabupaten Toba), Rita Pardede (Perpustakaan Seminarium Theologia Sipoholon), dan penulis Tansiswo Palambok Pusupusu Siagian.

Melacak Naskah-naskah Berbahasa Batak Read More »

Dorong Semangat UKBI Adaptif Merdeka, BBPSU Jalin Kerja Sama dengan Disdik Kota Medan

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU), Hidayat Widiyanto, M.Pd., didampingi Tim UKBI BBPSU, melakukan kunjungan ke Dinas Pendidikan Kota Medan pada Rabu, 8 Februari 2023. Kunjungan ini merupakan upaya BBPSU menyebarluaskan informasi tentang Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka di Kota Medan yang sebelumnya telah dilaksanakan di beberapa sekolah, salah satunya SMP Negeri 1 Medan.

Dengan menjadikan SMP Negeri 1 Medan sebagai sampel, Hidayat berharap sekolah-sekolah lain di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Medan juga melaksanakan UKBI Adaptif Merdeka. Dalam kesempatan ini, Hidayat menjelaskan mekanisme UKBI Adaptif Merdeka, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan ujian, hingga penskoran. “Siswa pada jenjang SMP sederajat idealnya mendapatkan skor dengan rentang 405—481 dan berpredikat Semenjana,” ujarnya.

Saat ini, eksistensi layanan UKBI Adaptif Merdeka belum sepenuhnya tersebar luas pada masyarakat di Kota Medan. Oleh sebab itu, BBPSU mengajak Dinas Pendidikan Kota Medan bersama-sama mendukung penyebarluasan layanan ini dalam bidang pendidikan. Kerja sama yang ditawarkan BBPSU pada kesempatan ini, yaitu pengadaan kegiatan sosialisasi UKBI Adaptif Merdeka untuk 50 kepala SMP negeri dan swasta di Kota Medan. Kepala sekolah yang mengikuti kegiatan ini nantinya bisa menjadi barometer suksesnya pelaksanaan UKBI Adaptif Merdeka pada SMP-SMP di Kota Medan.

Didampingi para kepala bidang dan pengawas, Laksamana Putra Siregar, Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, menyambut baik kerja sama yang ditawarkan oleh BBPSU. Ia menyadari betul pentingnya tes UKBI dalam peningkatan kualitas penggunaan bahasa Indonesia dalam masyarakat. “Dinas Pendidikan Kota Medan akan mendukung, mengimplementasikan, dan memastikan bahwa peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia dengan standar minimum pada tingkat Semenjana dapat tercapai,” ujar Putra antusias. Putra Siregar pun berkenan menyediakan tempat pelaksanaan sosialisasi yang akan diselenggarakan pada 15—16 Februari 2023 nanti. Ia juga akan mengundang 50 kepala SMP negeri dan swasta untuk menjadi peserta sosialisasi.

Menutup pertemuan itu, Putra Siregar berharap pelaksanaan UKBI Adaptif Merdeka nantinya tidak hanya diikuti oleh siswa, tetapi juga guru. Dinas Pendidikan Kota Medan dan BBPSU dapat bersinergi memfasilitasi pelaksanaan UKBI Adaptif Merdeka untuk para guru pada kesempatan berikutnya.

Dorong Semangat UKBI Adaptif Merdeka, BBPSU Jalin Kerja Sama dengan Disdik Kota Medan Read More »

Petualangan Sumut pada Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2024

“Bahasa daerah itu keren!” begitulah slogan yang digaungkan oleh para generasi muda pelestari bahasa ibu se-Indonesia. Di tengah arus globalisasi yang kian deras, semangat menjaga keberagaman bahasa daerah menjadi semakin penting. Kekayaan bahasa daerah yang ada di Indonesia merupakan salah satu aset berharga bagi kebinekaan dan martabat bangsa. Sejak 2021, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah menginisiasi program Revitalisasi Bahasa Daerah sebagai upaya melawan penurunan sikap positif terhadap bahasa daerah. Melanjutkan ikhtiar ini, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU) berperan aktif dalam revitalisasi bahasa daerah di berbagai kabupaten/kota dengan tahapan berikut: (1) Rapat Koordinasi; (2) Diskusi Kelompok Terpumpun; (3) Pelatihan Guru Master; (4) Pengimbasan dan Pelatihan; (5) Evaluasi dan Pengawasan; (6) Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional.

Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2024 menjadi puncak rangkaian program revitalisasi bahasa daerah di Sumatera Utara tahun 2023. Berdasarkan laporan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, perayaan ini menghadirkan 513 siswa SD dan SMP yang berasal dari 25 provinsi, salah satunya Sumatera Utara. Sebanyak 28 siswa Sumut dari kabupaten/kota Padangsidimpuan, Langkat, Asahan, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Labuhanbatu, Tapanuli Tengah, Padanglawas Utara, dan Humbanghasundutan unjuk kebolehan berbahasa daerah pada panggung FTBIN 2024 yang bertempat di Hotel Sultan, Jakarta.

Kegiatan dilaksanakan mulai Rabu s.d. Minggu, 1—5 Mei 2024. Pada Kamis (2/5) bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, pembukaan FTBIN 2024 dimulai. Acara diawali dengan persembahan lagu “Tanah Air” dan “Laskar Pelangi” dalam 19 bahasa daerah oleh beberapa perwakilan peserta, salah satunya Shafwa Salsabila yang berasal dari Langkat, Sumatera Utara. Shafwa menampilkan nyanyian menggunakan bahasa dan pakaian adat Melayu. Selanjutnya, acara dibuka resmi oleh Bapak Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Melalui sambutannya, Pak Menteri menyampaikan urgensi bahasa daerah yang harus dipertahankan mulai dari lingkungan terdekat. Ia juga mengutarakan rasa bangganya terhadap tunas-tunas muda yang tampil pada kegiatan ini. Pada kesempatan yang sama, Pak Menteri juga memberikan penghargaan kepada beberapa kepala daerah di Indonesia. Dari Sumatera Utara, Pj. Bupati Tapanuli Tengah, Dr. Sugeng Riyanta, M.H., menerima penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap suksesnya penyelenggaraan program Revitalisasi Bahasa Daerah. “Kami selaku pemerintah daerah mendukung penuh kegiatan ini. Kami juga menganggarkan satu mata anggaran khusus untuk pelestarian bahasa daerah,” ungkap Dr. Sugeng dalam wawancara singkatnya.

Pada Kamis (3/5), perwakilan pemerintah daerah Sumatera Utara melakukan Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah. Turut hadir, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU), Pj. Bupati Tapanuli Tengah, Wakil Bupati Nias, Pj. Bupati Langkat, Kadisdik Langkat, Kadisdik Tapteng, serta beberapa pejabat lain yang mewakili walikota/bupati/pj bupati di daerahnya. Kepala BBPSU mengatakan, “Pada tahun 2024, Sumatera Utara melibatkan 12 provinsi kabupaten/kota dalam merevitalisasi bahasa Batak, Melayu, dan Nias. Kami berharap, setelah rakor ini pemerintah daerah memberikan dukungan yang maksimal sehingga pelaksanaan program revitalisasi bahasa daerah dapat tumbuh baik dan bahasa daerah itu disenangi anak-anak sebagai jati diri mereka, orang Sumatera Utara.”

Puncak penampilan seluruh peserta dilaksanakan pada hari Sabtu (4/5). Sumatera Utara yang tampil pada urutan 17 mempersembahkan pertunjukan berbahasa Melayu dialek Panai, Melayu dialek Sorkam, Melayu dialek Asahan, Melayu dialek Langkat, Batak Toba, dan Angkola. Semangat dari mulai latihan hingga tampil sangat terasa. Pertunjukan dikemas dalam tembang tradisi, dongeng, pidato, komedi tunggal, puisi, pantun, dan cerpen.

Selain tampil, seluruh peserta diajak berwisata sejarah ke Monumen Nasional. Ada banyak cerita heboh dan pengalaman berkesan yang mereka ceritakan selama berada di Jakarta. “Senang sekali rasanya ada acara FTBI karena ini pertama kalinya kami naik pesawat dan bisa ke Jakarta, mauliate,” kata Sry Kawani Sitohang dari Humbang Hasundutan. “Saya juga bangga sekali ikut FTBI. Kalau tidak karena acara ini belum tentu saya bisa ke Monas,” tambah Zidan Aldriansyah dari Asahan. Seluruh siswa yang mewakili Sumatera Utara dalam FTBIN 2024 mengaku bangga bisa memperkenalkan bahasa daerahnya.

Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2024 menorehkan prestasi dan kenangan tak terlupakan bagi seluruh peserta, khususnya anak-anak Sumatera Utara. Dari tampil di panggung megah hingga berwisata sejarah, peserta mendapatkan petualangan berharga tentang pentingnya melestarikan bahasa ibu sebagai bagian dari identitas bangsa. Festival ini tidak hanya menampilkan talenta muda, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk menjaga kekayaan bahasa daerah sejak dini. Dengan semangat dan dukungan yang kuat, bahasa daerah akan terus hidup dan berkembang di hati generasi muda. (Shevilla Mayori)

Dokumentasi

Petualangan Sumut pada Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2024 Read More »

BBPSU Libatkan Pegawai dalam Bimbingan Teknis Pengelolaan Perbendaharaan dan Keuangan

Jakarta, 23 Mei 2024 – Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU) melalui Layanan Administrasi Subbagian Umum mengikutsertakan pegawai dalam Bimbingan Teknis Pengelolaan Perbendaharaan dan Keuangan di Lingkungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang diinisiasi oleh Sekretariat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kegiatan ini dilaksanakan pada 19—23 Mei 2024 di Harris Hotel & Convention Kelapa Gading, Jalan Boulevard Barat Raya Nomor 13, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Perhelatan ini diikuti oleh unit pelaksana teknis yang tersebar di seluruh Indonesia yang diwakili para Pejabat Pembuat Komitmen dan Bendahara Pengeluaran.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin. Dalam sambutannya Hafidz mengajak kepada semua pengelola keuangan perbendaharaan untuk melaksanakan tugas pengelolaan keuangan sesuai dengan aturan akuntabel dan transparan, serta direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara baik dan terstruktur.

Dalam rangkaian kegiatan itu panitia menyampaikan beberapa materi yang relevan melalui para narasumber yang kometen, yang meliputi 1) Bagan Akun Standar, 2) Petunjuk Teknis Penilaian Kinerja Pelaksanaan Anggaran Tahun 2024 berdasarkan PER-5/PB/2024 yang dibawakan oleh Avviz Elfarij/Direktorat Pelaksanaan Anggaran, DJPb Kemenkeu, 3) Sosialisasi PMK Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan yang dibawakan oleh Dian Setyo Cahyono/Direktorat PA DJPB Kemenkeu, dan 4) PMK-231/PMK.03/2019 s.t.d.d. PMK-59/PMK.03/2022 tentang Tata Cara Pendaftaran dan Penghapusan NPWP, Pengukuhan dan Pencabutan Pengukuhan PKP, serta Pemotongan dan/atau Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak bagi Instansi Pemerintah, 5) Standar Biaya Masukan Tahun 2024 dan Perjalanan Dinas Jabatan yang dibawakan oleh Fuad Bagraff/Direktorat Sistem Perbendaharaan, 6) LPJ dan Pembukuan Bendahara Pengeluaran yang dibawakan oleh Sinta/KPPN Jakarta III DJPb Kemenkeu, 7) Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah yang dibawakan oleh Joko Heratmo, 8) Temuan hasil pemeriksaan Itjen Kemendikbudristek dan tindak lanjutnya yang dibawakan oleh Plt. Inspektur I, Itjen Kemendikbudristek. Hadir pula Prof. Dr. Haryono Umar yang memberi penguatan melalui materi Korupsi Anggaran. Panitia juga menyiapkan berbagai kuis menarik yang berhubungan dengan materi peserta.

Dalam kesempatan ini BBPSU mengikutsertakan Agus Mulia sebagai PPK dan Indah Gustina sebagai Bendahara Pengeluaran. “Kegiatan ini penting dan perlu dilaksanakan untuk meningkatkan akuntabilitas kinerja dan tata kelola administrasi keuangan, memutakhirkan pemahaman terkait dengan berbagai aturan, terutama untuk kepentingan PPK dan Bendahara Pengeluaran. Selain itu, kami dapat menjalin silaturahmi dengan para besties dari semua UPT, “ ujar Indah.

Ayo, kelola keuangan secara akuntabel dan transparan!

-Indah Gustina

Dokumentasi

BBPSU Libatkan Pegawai dalam Bimbingan Teknis Pengelolaan Perbendaharaan dan Keuangan Read More »

Pelatihan Guru Utama Bahasa Batak Dialek Angkola

KKLP Pelindungan dan Pemoderan Bahasa dan Sastra, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara mengadakan Pelatihan Penguatan Kompetensi Guru Utama Berbahasa Daerah bagi guru untuk bahasa Batak Dialek Angkola. Kegiatan ini diadakan di Hotel Torsibohi, Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan mulai tanggal 23—26 April 2024. Kegiatan ini diikuti sebanyak 51 orang peserta dari tiga wilayah, yaitu dari Kabupaten Tapanuli Selatan sebanyak 18 orang guru, Kabupaten Padang Lawas Utara sebanyak 18 orang guru, dan dari Kota Padangsidimpuan sebanyak 15 orang guru.

Kegiatan Pelatihan Penguatan Kompetensi Guru Utama Berbahasa Daerah bagi guru untuk bahasa Batak Dialek Angkola ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Tapanuli Selatan, Sofyan Adil Siregar didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Daerah Kabupaten Selatan, Arman Pasaribu, dan Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara. Dalam sambutan, Sekda mengatakan bahwa “kondisi penggunaan bahasa daerah di tiga wilayah ini memperlihatkan bahwa masyarakat kami cenderung menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari, begitu juga pada dunia pendidikan dan pemerintahan dominan menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan bahasa daerah hanya digunakan untuk komunikasi di kampung, dalam keluarga, dan dalam aktivitas adat. oleh sebab itu, saya sangat mendukung adanya program revitalisasi bahasa daerah yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, melalui Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, sekaligus berterima kasih telah memilih Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara, dan Kota Padangsidimpuan sebagai salah satu tujuan pelaksanaan revitalisasi bahasa daerah.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan dalam sambutannya menyatakan bahwa kondisi penggunaan bahasa daerah di tiga wilayah, yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Utara, dan Kota Padangsidimpuan ini jika tidak ada upaya untuk melestarikannya, maka dikuatirkan perlahan akan menuju kepunahan. Kondisi ini dikarenakan berbagai faktor, di antaranya kelalaian orangtua untuk mewariskan bahasa kepada anak-anaknya, belum adanya kurikulum muatan lokal di sekolah yang khusus mengajarkan bahasa daerah. Pada kegiatan pelatihan ini disampaikan tujuh materi pembelajaran revitalisasi bahasa daerah, yaitu menulis cerpen,menulis dan membaca puisi, berpidato, mendongeng, menulis dan membaca aksara Batak, nyanyian rakyat, dan stand up comedy. Untuk materi menulis dan membaca aksara Batak disampaikan oleh Budi Hutasuhut, materi pidato disampaikan oleh Sorimuda Harahap, keduanya adalah narasumber dari Kabupaten Tapanuli Selatan. Sedangkan materi lainnya disampaikan oleh para tim KKLP Pelindungan dan Pemodernan Bahasa dan Sastra, yaitu Sahril, Rosliani, Nurelide, Syaifuddin Zuhri Harahap, dan Lolabora Tarigan.

Pada hari Rabu, 24 April 2024 tim KKLP Pelindungan dan Pemodernan Bahasa dan Sastra diwakili oleh Syaifuddin Zuhri Harahap, Sahril, dan Nurelide diundang oleh Bupati Tapanuli Selatan, H. Dolly Putra Parlindungan Pasaribu ke Kantor Bupati Tapanuli Selatan untuk memberikan ucapan terima kasih kepada Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara atas pemilihan bahasa Batak Dialek Angkola untuk direvitalisasi mulai dari tahun 2022 dan ucapan terima kasih juga atas pemilihan lokasi pelaksanaan pelatihan. Saat pertemuan tersebut Bupati didampingi oleh Sekda dan Kepala Dinas Pendidikan dan Daerah. Di samping itu, Bupati juga mengucapkan terima kasih atas undangan dari Badan Bahasa untuk menghadiri rapat koordinasi yang akan dilaksanakan pada tanggal 2—3 Mei 2024 nanti di Jakarta. Bupati Dolly Putra Parlindungan Pasaribu insyaallah akan menghadirinya. Beliau juga menyampaikan ucapan terima kasih atas pemberian penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada tahun 2023 atas perhatian pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan pada kegiatan RBD, beliau mohon maaf saat itu tidak bisa hadir langsung untuk menerimanya, hanya diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Daerah. [Sahril]

Pelatihan Guru Utama Bahasa Batak Dialek Angkola Read More »

Diplomat dan Duta Besar dari Berbagai Negara Ikuti Program Belajar Bahasa Indonesia

Nomor: 29/sipers/A6/II/2024

Jakarta, 21 Februari 2024 – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri akan menyelenggarakan program bahasa Indonesia untuk diplomat negara sahabat pada bulan Maret mendatang. Sebanyak 134 warga asing dari 50 perwakilan negara sahabat dan organisasi internasional akan mengikuti kegiatan tersebut.

Program tersebut merupakan bentuk fasilitasi bahasa Indonesia untuk diplomat negara sahabat yang sedang menjalankan misi di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Aminudin Aziz, menyebutkan bahwa program bahasa Indonesia bagi diplomat ini merupakan salah satu cara untuk mengenalkan Indonesia kepada dunia.

“Saya sangat senang dan mengapresiasi keinginan Anda untuk mengikuti program bahasa Indonesia ini. Program ini tidak hanya sekadar belajar bahasa Indonesia, namun lebih daripada itu, ini adalah momentum untuk mengenal Indonesia lebih dalam, baik budaya, wisata, dan kekayaan Indonesia lainnya,” ujar Aminudin kepada para Duta Besar, Diplomat, dan perwakilan organisasi internasional yang hadir saat peresmian program di Jakarta, Selasa (20/2).

Lebih lanjut, ia juga menyampaikan bahwa program ini akan mempererat kolaborasi Indonesia dengan negara sahabat. Saat ini bahasa Indonesia sudah tersebar di 54 negara, dan untuk mendukung diplomasi tersebut pemerintah Indonesia akan menyediakan beasiswa khusus bagi orang asing yang fasih berbahasa Indonesia untuk menjadi guru bahasa Indonesia di negaranya.

“Saya berharap, Anda semua dapat mengikuti dan menikmati proses pembelajaran bahasa Indonesia. Orang Indonesia akan sangat bangga dan sangat terbuka jika Anda menyapa mereka dengan bahasa Indonesia,” ungkap Aminudin.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Duta Besar, Siti Nugraha Mauludiah, menyebut beberapa fakta menarik tentang bahasa Indonesia.

“Ada fakta menarik dari bahasa Indonesia yang harus saya sampaikan, bahwa Wikipedia bahasa Indonesia menempati posisi ke 25 dari 250 wikipedia berbahasa asing di dunia, sekaligus peringkat ketiga di Asia setelah bahasa Jepang dan Mandarin. Selain itu, bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa resmi di sidang umum UNESCO,” jelasnya.

Siti menilai, belajar bahasa Indonesia adalah keputusan yang sangat baik bagi para diplomat. Program ini akan memberikan banyak manfaat. Kemahiran berbahasa Indonesia juga berfungsi sebagai jembatan untuk membina hubungan yang lebih kuat dan saling menghormati antara diplomat dan masyarakat Indonesia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Duta Besar Aljazair, Hassane Rabehi, “Saya sangat senang mengikuti kegiatan ini. Saya pikir bahasa Indonesia sangat penting bagi para diplomat untuk berinteraksi dengan masyarakat lokal. Saya berharap bisa menulis dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Terima kasih atas kolaborasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dan Kementerian Luar Negeri dalam menyelenggarakan program ini.”

Dalam momen yang sama, selebgram Kenji atau yang kerap disapa Ken Campur, yang hadir sebagai pewara mengaku bangga bahasa Indonesia dikenalkan kepada para diplomat perwakilan negara sahabat. Pemelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) asal Jepang ini menilai bahasa Indonesia sangat dibutuhkan terlebih jika memilih tinggal di Indonesia.

“Saya sebagai orang Jepang sangat bangga, para diplomat bisa mengikuti program bahasa Indonesia secara gratis. Hal ini sangat penting jika kita memilih tinggal di Indonesia,” ucapnya.

Kegiatan ini selain dihadiri oleh diplomat perwakilan negara sahabat dan organisasi internasional juga dihadiri oleh para Duta Besar, yakni Duta Besar Argentina, Gustavo Ricardo Coppa; Duta Besar Aljazair, Hassane Rabehi; Duta Besar Armenia, Serob Bejanyan; Duta Besar Belarusia, Raman Ramanouski; Duta Besar Filipina, Gina Alagon Jamoralin; Duta Besar Ukraina, Vasyl Hamianin; dan Duta Besar Kazakhstan, Arnur Tanbay.

Selain pembukaan program, dalam kegiatan ini juga dilaksanakan tes penempatan yang bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman berbahasa Indonesia. Selanjutnya, para peserta akan mulai mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia pada 4 Maret hingga 30 Agustus 2024 di empat lembaga penyelenggara program BIPA, yaitu Universitas Negeri Jakarta, Universitas Trisakti, Institut Pariwisata Trisakti, dan Lembaga Bahasa LIA.

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

#MerdekaBelajar
#BIPA
#BadanBahasa

Dokumentasi

Diplomat dan Duta Besar dari Berbagai Negara Ikuti Program Belajar Bahasa Indonesia Read More »

BERBURU KOSAKATA BUDAYA SIMALUNGUN DAN TOBA

Penyediaan bahan informasi tentang kosakata yang berkaitan dengan budaya merupakan salah satu kegiatan dari Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional Perkamusan dan Peristilahan (KKLP KI) Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU). Tahun ini, produk yang akan dihasilkan berupa bahan bacaan dalam bentuk ensiklopedia budaya. Untuk itu tim KKLP KI melakukan pengambilan data sejak tanggal 1—7 Februari 2024. Perjalanan dimulai dari Kabupaten Simalungun lalu Toba dan Kabupaten Humbanghasundutan.


Kegiatan pengambilan data ini bertujuan untuk menggali informasi dari masyarakat yang berkenaan dengan entri budaya terutama budaya Simalungun dan Toba. Melalui kegiatan ini diharapkan ensiklopedia budaya yang akan disusun berisi informasi yang lebih lengkap dan detail.
Pengambilan data melibatkan beberapa tokoh masyarakat, pemandu acara adat, tokoh budaya, pegiat tradisi adat budaya Simalungun dan Toba. Tim melakukan wawancara dengan para informan berdasarkan instrumen tanyaan yang telah disediakan.

Salah seorang informan, Erikson Simbolon, mengungkapkan bahwa penyusunan ensiklopedia budaya Sumatera Utara sangat diperlukan sebagai upaya pemertahanan tradisi budaya masyarakat Sumatera Utara. Erikson berharap para generasi muda dapat memanfaatkan ensiklopedia  ini sebagai referensi untuk mengenal budaya Sumatera Utara. Di samping itu, Erikson menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Balai Bahasa Provinsi Sumatera dan berharap informasi yang telah diberikan dapat bermanfaat dalam penyusunan ensiklopedia budaya. Pada akhir sesi wawancara, Anharuddin Hutasuhut, mewakili KKLP KI BBPSU berterima kasih kepada para informan yang telah bersedia berdiskusi tentang budaya di Sumatera Utara. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat untuk melestarikan dan tetap menjalankan tradisi budayanya.

BERBURU KOSAKATA BUDAYA SIMALUNGUN DAN TOBA Read More »

[SIARAN PERS] Kongres dan Rapat Kerja Forum Widyabasa Indonesia diselenggarakan di Badan Bahasa

Nomor: 002/sipers/A6/I/2024
Kongres dan Rapat Kerja Forum Widyabasa Indonesia diselenggarakan di Badan Bahasa

Jakarta, 10 Januari 2024 — Forum Widyabasa Indonesia (FWI), sebuah organisasi profesi yang mewadahi para pejabat fungsional Widyabasa di Indonesia, mengadakan Kongres Perdana FWI pada tanggal 10 Januari 2024. Kongres dilanjutkan dengan Rapat Kerja FWI keesokan harinya. Organisasi profesi FWI ini dibentuk sebagai wadah pengembangan dan bertukar pikiran seluruh anggota.

Dideklarasikan pada pada 28 November 2023, organisasi profesi ini siap melayani masyarakat dan menyambut tantangan kebahasaan yang ada di masa depan. Melalui kerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai instansi pembina Widyabasa Indonesia, FWI diharapkan mampu berkontribusi secara optimal dan meningkatkan peran bahasa dan sastra Indonesia dalam meningkatkan literasi Indonesia.

Deklarasi yang telah dilakukan merupakan langkah awal dalam penguatan kegiatan-kegiatan FWI berikutnya, di antaranya adalah kegiatan Kongres dan Rapat Kerja Forum Widyabasa Indonesia yang dilaksanakan untuk menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi, merumuskan program kerja, dan mengesahkan kelengkapan organisasi lainnya yang dilaksanakan pada 10—11 Januari 2024, bertempat di Aula Sasadu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kongres FWI ini merupakan Langkah fundamental untuk mendukung terciptanya ekosistem kebahasaan dan kesastraan yang baik dengan peran aktif Widyabasa Indonesia.

“Widyabasa dapat mengkreasikan pemikiran, bagaimana untuk berperan aktif dalam mengemban tugas yang dinyatakan dalam Keputusan Permenpan RB Nomor 2, Tahun 2022, Tentang Penetapan Jabatan Fungsional Widyabasa. Tugas Widyabasa mengembangkan, membina dan melestarikan bahasa dan sastra. Tingkat literasi masyarakat kita yang selalu merujuk pada nilai rendah menjadi tantangan bagi para Widyabasa. Ini merupakan tanggung jawab besar yang diemban oleh Widyabasa,” ujar Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), E. Aminudin Aziz dalam sambutannya, pada Rabu (10/1).

Amin menambahkan, bahwa Widyabasa diartikan dalam dua makna, yaitu Widya Bahasa dan Sastra. Jabatan Fungsional Widyabasa bisa sampai ke jenjang Ahli Utama. “Saat ini, di lingkungan Badan Bahasa Jabatan Fungsional Widyabasa Ahli Pertama diampu oleh 100 orang, Widyabasa Ahli Muda 129 orang, Widyabasa Ahli Madya 50 orang, dan PPPK 39 orang. Jumlah tersebut masih belum ideal, karena tugas semakin banyak dan tuntutan lingkungan berubah setiap saat. Sementara itu, Widyabasa Ahli Utama belum dimiliki di Badan Bahasa karena sampai hari ini masih menunggu ditetapkannya aturan oleh Menteri,” terangnya.

Lebih lanjut, Amin menyampaikan bahwa peran Pimpinan di Pusat dan Unit Pelaksana Tugas (UPT) diperlukan dalam pembinaan Widyabasa agar dapat berkinerja lebih baik. “Bagaimana menggerakkan potensi Widyabasa yang ada, supaya Widyabasa ini dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gerak roda lembaga ini. Kita tidak mungkin bekerja sendiri, harus saling berkontribusi, tidak lagi I for me, tapi menjadi We for us!,” tutup Amin mengakhiri sambutan.

Widyabasa bukanlah jabatan yang datang secara instan. Orang-orang yang menduduki jabatan ini adalah mereka yang sudah berkecimpung dalam dunia kebahasaan dan kesastraan. Widyabasa dapat menjadi pelengkap dan pemerkuat peran Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ada di setiap instansi, khususnya dalam pendampingan serta penggunaan bahasa yang baik dan benar, baik dalam tata naskah dinas maupun dalam penggunaan bahasa tulis lainnya.

Selain itu, Widyabasa juga bertugas membina penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik, meningkatkan kemahiran berbahasa, pemajuan sastra lisan yang ada di suatu daerah, kodifikasi bahasa dan sastra, dan bidang lain yang dapat menguatkan jabatan lain dalam suatu instansi. Sebagaimana diketahui, Widyabasa kini menjadi salah satu pilihan jabatan fungsional bagi ASN yang akan bekerja, berkiprah, dan berkarier di bidang kebahasaan dan kesastraan. Nomenklatur ini pun melengkapi nomenklatur jabatan fungsional lain di lingkungan Kemendikbudristek.

Secara resmi Widyabasa dikukuhkan sebagai jabatan fungsional oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 2 Tahun 2022 tentang Jabatan Fungsional Widyabasa. Dalam peraturan tersebut tertera bahwa Pejabat Fungsional Widyabasa adalah PNS yang diberi tugas, tanggung jawab, dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra.

Tugas pokok melaksanakan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra, terdapat tiga unsur, yaitu unsur pengembangan bahasa dan sastra yang meliputi 57 butir kegiatan, unsur pembinaan bahasa dan sastra yang mencakupi 34 butir kegiatan, dan unsur pelindungan bahasa dan sastra yang menaungi 14 butir kegiatan. Secara keseluruhan terdapat 105 butir kegiatan yang dapat dilakukan oleh widyabasa. Pelaksanaan butir kegiatan tersebut dapat disesuaikan dengan tugas dan fungsi lembaga tempat widyabasa bekerja.

Jabatan fungsional widyabasa bersifat terbuka. Oleh karena itu, ASN di luar instansi pembina, yaitu Kemendikbudristek melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Widyabasa. Kesempatan itu ada jika salah satu tugas dan fungsi lembaga yang menaunginya berkaitan dengan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra. ASN dapat menjadi pejabat fungsional Widyabasa melalui beberapa jalur, yaitu jalur pengangkatan pertama, perpindahan dari jabatan lain, penyesuaian (inpassing), dan promosi.

Widyabasa merupakan rumpun jabatan keahlian yang terbagi atas jenjang jabatan Widyabasa Ahli Pertama, Widyabasa Ahli Muda, Widyabasa Ahli Madya, dan Widyabasa Ahli Utama. Jumlah Widyabasa pada setiap jenjang akan ditentukan oleh serangkaian analisis yang proses dan contohnya terangkum dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2022 tentang Pedoman Penyusunan Kebutuhan Jabatan Fungsional Widyabasa.

Sementara itu, Atikah Solihah, Ketua Umum FWI dalam laporannya menyampaikan bahwa Kongres Widyabasa Indonesia diharapkan dapat menghasilkan kelengkapan organisasi profesi yang diperlukan. “Hasil Kongres I FWI akan ditindaklanjuti dalam bentuk regulasi yang akan lebih mengukuhkan Widyabasa dalam berperan aktif di bidang pengembangan, pembinaan, pelindungan, dan peningkatan fungsi bahasa Indonesia serta akan direalisasikan dalam bentuk kerja kolaboratif antarwidyabasa. Kongres FWI akan membahas tiga agenda penting, yaitu AD/ART, Program Kerja, dan kelengkapan organisasi lainnya,” tuturnya.

“Program kerja FWI akan berfokus pada empat bidang. Bidang Kesekretariatan dan Keorganisasian akan mengusung tema kerja Widyabsa Berpena, Bidang Pengembangan Profesi dan Inovasi akan mengusung tema kerja Widyabasa Berkarya, Bidang Hukum dan Advokasi akan mengusung tema kerja Widyabasa Bermuruah, dan Bidang Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama akan mengusung tema kerja Widyabasa Berjenama. Sebagai organisasi yang baru dibentuk, diharapkan keempat bidang kerja tersebut dapat memperkukuh Forum Widyabasa Indonesia menuju organisasi profesi yang bermartabat dan bermanfaat,” lanjut Atikah.

Kegiatan Kongres dan Rapat Kerja FWI ini dilaksanakan secara hibrida. Turut hadir secara luring dalam kegiatan Kongres dan Rapat Kerja FWI ini Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, serta sejumlah 279 Pejabat Fungsional Widyabasa yang berasal dari 30 Provinsi turut hadir secara luring dan daring. Sementara itu, turut hadir secara luring perwakilan organisasi profesi Asosiasi Widyaprada Indonesia, Muktiono Waspodo, Pamong Budaya, serta rekan media.

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id
#MerdekaBelajar

[SIARAN PERS] Kongres dan Rapat Kerja Forum Widyabasa Indonesia diselenggarakan di Badan Bahasa Read More »

BAHAN BACAAN BERMUTU: CAPAIAN PRODUK PENERJEMAHAN BBPSU

Kelompok Kepakaran Layanan Profesional (KKLP) Penerjemahan, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melaksanakan kegiatan Sosialisasi Produk Penerjemahan di Hotel JW Marriott, Medan pada Senin, 27 November 2023. Kegiatan ini melibatkan 52 peserta yang berasal dari komunitas literasi, guru dan siswa kelas rendah (kelas 1—3) sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah negeri maupun swasta, serta Duta Bahasa Sumatera Utara. Keseluruhan peserta berasal dari Kota Medan, Binjai, dan Deliserdang.

Sosialisasi ini merupakan kegiatan tahap akhir dari beberapa rangkaian kerja yang sudah dimulai sejak awal tahun. Adapun produk yang diluncurkan sebanyak 70 produk yang berasal dari karya 10 orang pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak Dwibahasa; hasil Bimtek Penerjemahan Cerita Anak; penerjemahan Naskah Budaya Bahasa Daerah; dan hasil Bimtek Juru Bahasa Isyarat. Produk-produk penerjemahan ini merupakan bagian dari ikhtiar Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara dalam mendukung pemajuan Gerakan Literasi Nasional yang diimplementasikan melalui penerbitan buku bacaan bermutu.

Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan budaya literasi pada elemen pendidikan yang meliputi keluarga, sekolah, serta masyarakat. Dengan pelibatan seluruh elemen ini, diharapkan dapat mendongkrak daya baca anak bangsa khususnya pada tingkat sekolah dasar. Keseluruhan produk ini merupakan representasi dari kearifan lokal Sumatera Utara, untuk itu diharapkan dapat mendorong penguatan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Hidayat Widiyanto dalam acara pembukaan kegiatan mengharapkan agar produk penerjemahan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kecakapan literasi di lingkungan sekolah dan rumah.

Selain penyampaian materi mengenai Peran BBPSU dalam Meningkatkan Literasi di Sumatera Utara dan Sosialisasi Produk Penerjemahan BBPSU yang masing-masing disampaikan oleh Hidayat Widiyanto, M.Pd. dan Yolferi, M.Hum. untuk penguatan kepada komunitas literasi dan para guru, sosialisasi ini juga melibatkan para siswa secara langsung untuk mempraktikkan membaca nyaring, menceritakan kembali, serta memberi tanggapan terhadap buku-buku yang diluncurkan. Semuanya dikemas dalam konsep “permainan” yang seru agar para siswa dapat bahagia mengikuti kegiatan. Kegiatan diakhiri dengan pembagian buku-buku produk Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara Tahun 2023 untuk menambah koleksi perpustakaan sekolah maupun  komunitas literasi. (Lap. Chai)

BAHAN BACAAN BERMUTU: CAPAIAN PRODUK PENERJEMAHAN BBPSU Read More »

FESTIVAL TUNAS BAHASA IBU TINGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2023

Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Sumatera Utara pada Selasa—Kamis, 14—16 November 2023 di Asrama Haji Medan.

Festival ini diikuti oleh 140 pelajar tingkat SD dan SMP sederajat dari 10 kabupaten/kota di Sumatera Utara. Seluruh siswa menampilkan kepiawaiannya dalam berbahasa daerah dengan 7 jenis metari, yaitu membaca dan menulis aksara daerah, menulis dan membaca cerpen, membaca dan menulis puisi/sajak, mendongeng, berpidato, bernyanyi/tembang tradisi, dan berkomedi tunggal dengan berbahasa daerah Melayu dialek Panai, Melayu dialek Asahan, Melayu dialek Langkat, Batak dialek Angkola, serta Batak dialek Toba.

Kepala BBPSU, Hidayat Widiyanto, M.Pd. dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Sebelum sampai pada tahap ini, seluruh peserta telah mengikuti FTBI tingkat kabupaten.

Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbudristek, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Kakanwil Kemenag Provinsi Sumatera Utara, Kepala Dinas Pendidikan dari 9 kabupaten/kota, budayawan, tokoh adat, sastrawan, hingga masyarakat.

Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemdikbudristek, Dr. Muhammad Abdul Khak menyampaikan bahwa lingkungan keluarga (rumah tangga) adalah tempat bahasa daerah hidup. “Jika rumah tangga sudah tidak menggunakan bahasa daerah, maka dikhawatirkan bahasa daerah dapat tergerus”, tuturnya.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang diwakili oleh Kabid Pembinaan SMK, Dr. Suhendri M.A. menyampaikan bahwa FTBI ini sangat baik untuk kelangsungan hidup bahasa daerah karena bahasa merupakan suatu kekayaan yang harus tetap dijaga. “Semoga kegiatan FTBI tingkat Provinsi Sumatera Utara ini memberikan manfaat yang luar biasa dan kecintaan anak-anak terhadap bahasa ibunya tetap terjaga dari masa ke masa”, pungkasnya.

Festival Tunas Bahasa Ibu menjadi momen bahagia bagi anak-anak untuk menunjukkan kecintaan mereka terhadap bahasa daerahnya dan sebagai upaya merawat bahasa daerah melalui cara-cara yang kreatif dengan konsep merdeka belajar.

FESTIVAL TUNAS BAHASA IBU TINGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2023 Read More »

FTBI 2023: Melahirkan Penjaga Bahasa di Sumatra Utara

Medan, 16 November 2023 – Implementasi Kebijakan Merdeka Belajar episode ke-17: Revitalisasi Bahasa Daerah, terus digaungkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kali ini, melalui Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara dengan mengadakan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2023 pada 15 November 2023, bertempat di Asrama Haji Embarkasi Medan, Sumatra Utara.

FTBI Provinsi Sumatra Utara dihadiri undangan dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sumatera Utara, para Kepala Dinas Pendidikan dari sepuluh kabupaten/kota, beserta jajaran, para budayawan, tokoh adat, sastrawan, orang tua dan pemangku kepentingan lainnya. Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Kemendikbudristek, turut hadir mewakili Kepala Badan Bahasa.

Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Muh. Abdul Khak, mengatakan dalam sambutannya, bahwa sejarah Bahasa Ibu diperkenalkan pada tanggal 17 November 1999 oleh UNESCO. Pada saat itu, UNESCO menetapkan bahwa 21 Februari menjadi Hari Bahasa Ibu Internasional. Hari Bahasa Ibu Internasionl tercipta dikarenakan suatu peristiwa bahasa di suatu negara yang menjadi terpecah menjadi dua, yaitu Pakistan dan Bangladesh.

Selanjutnya, Muh. Abdul Khak menambahkan bahwa bahasa sudah menjadi sebuah ideologi dan perlu untuk direvitalisasi agar tetap hidup dan tidak punah. “Sama halnya dengan bahasa daerah di Indonesia supaya tetap hidup hingga keturunan-keturunan selanjutnya,” ucapnya di Medan, Rabu (15/11). Ia juga menghimbau masyarakat untuk mempertahankan bahasa daerah mulai dari lingkungan rumah sebagai ‘benteng’ awal untuk mempertahankan bahasa daerah.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Hidayat Widiyanto, mengungkapkan bahwa bahasa daerah punah karena para penutur mudanya tidak lagi menggunakan bahasa tersebut. Begitu juga para orang tua tidak lagi mewariskan bahasa tersebut kepada anak-anaknya. “Untuk itu, bahasa daerah harus dipakai secara meluas, terutama oleh para penutur muda. Itu prinsip revitalisasi yang tepat guna,” tegasnya.

Di Provinsi Sumatra Utara saat ini telah dilakukan revitalisasi bahasa Melayu dialek Panai di Kabupaten Labuhan Batu, bahasa Melayu dialek Sorkam di Kabupaten Tapanuli Tengah, bahasa Batak dialek Mandailing-Angkola di Kota Padangsidempuan, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Padang Lawas Utara. Kelima kabupaten/kota ini sudah sejak 2022 telah melakukan revitalisasi bahasa daerahnya.

“Pada 2023 ini kami mengajak Pemerintah Daerah Kabupaten Langkat untuk bahasa Melayu dialek Langkat, Kabupaten Asahan untuk bahasa Melayu dialek Asahan/Tanjungbalai, dan Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Kabupaten Samosir untuk bahasa Batak dialek Toba. Taihun depan, jumlah bahasa dan jumlah kabupaten akan ditambah dengan kerja sama bersama pemerintah daerah kabupaten/kota lainnya,” jelas Hidayat Widiyanto.

Dukungan Pemerintah Sumatra Utara

Kepala Bidang Pembinaan SMK, Suhendri, berharap di tahun 2024 yang akan datang, peserta FTBI tidak hanya berasal dari siswa/siswi baik tingkat SD maupun SMP saja melainkan juga tingkat SMA/MA maupun SMK. Menurutnya, para peserta merupakan penjaga bahasa di Sumatra Utara.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Ahmad Qosbi, menyampaikan bahwa bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa milik Indonesia, maka dari itu Kementerian Agama (Kemenag) juga memberikan satu program moderasi beragama yang di dalamnya termasuk FTBI. Inti dari moderasi beragama mengacu pada empat indikator, yaitu cinta terhadap bangsa dan tanah air, toleransi, anti kekerasan, serta menerima dan menghargai budaya maupun adat istiadat lokal.

Kegiatan revitalisasi bahasa daerah di Provinsi Sumatra Utara telah melibatkan 251 guru utama yang disebut guru master. Pada 12—15 Juni 2023 dan 19—22 Juni 2023 seluruh guru utama ini telah mendapat pelatihan intensif dalam bentuk Traning of Trainer (ToT) oleh instruktur selama kurang lebih seminggu. Para guru utama yang dilatih, dipilih dari kabupaten-kabupaten yang bahasanya direvitalisasi.

Para guru utama yang telah dilatih ini, lalu mengimbaskan pengetahuan yang didapatnya ke guru-guru sejawat. Setelah itu, guru sejawat yang telah mendapat pengimbasan dari guru utama ini, melakukan pengimbasan lagi ke siswa dalam bentuk pelatihan berbasis sekolah.

Tercatat, ada sejumlah 2.380 guru sejawat yang dilibatkan dan 30.404 siswa yang terdiri atas 7.129 siswa SD dan 23.275 siswa SMP sederajat yang terlibat dalam pembelajaran ini. Selain guru sejawat dan siswa, kegiatan revitalisasi bahasa daerah ini juga melibatkan para pemangku kepentingan. Ada 10 Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten/Kota yang mendukung revitalisasi pada tahun 2023. FTBI tingkat Provinsi ini menghadirkan 140 penampil dari 10 kabupaten/kota. Selain itu, acara ini juga melibatkan akademisi, tokoh adat, pakar, dan maestro budaya setempat pada prosesnya sampai pada tahap ini.

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Nomor: 640/sipers/A6/XI/2023

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id
#MerdekaBelajar

FTBI 2023: Melahirkan Penjaga Bahasa di Sumatra Utara Read More »

Inovasi Produk Berbasis Bahasa Daerah Karya Anak Muda Sumatera Utara

Medan, 31 Oktober 2023—Duta Bahasa Sumatera Utara bersama Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan pameran bertajuk “Niaga Bahasa: Pemberdayaan Bahasa Daerah dalam Produk Ekonomi Kreatif” di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Kegiatan ini bersamaan dengan kegiatan Festival Budaya Melayu III yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Melayu FIB USU. Niaga Bahasa ini diikuti oleh generasi muda berusia 18—25 tahun yang memiliki minat di bidang kewirausahaan dan desain grafis.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Hidayat Widiyanto, menyampaikan bahwa produk yang dihasilkan oleh para peserta sangat baik. Sebelumnya, para peserta diberikan pemahaman mengenai eksistensi bahasa daerah, peran bahasa daerah dalam bidang industi kreatif serta peluang bahasa daerah dalam niaga dan pelatihan desain grafis pada tanggal 14—15 Oktober 2023 di Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara.

“Harapan besar bahwa para peserta makin memahami potensi bahasa daerah yang dijadikan sebagai peluang usaha dan terlibat dalam pelestarian bahasa daerah melalui niaga bahasa dengan cara-cara yang kreatif”, ucap Hidayat saat membuka kegiatan Niaga Bahasa pada Minggu, 15 Oktober 2023.

Pameran Niaga bahasa yang merupakan krida Duta Bahasa terakhir dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari rangkaian kegiatan yang dimulai pada 14—15 Oktober 2023. Para peserta dibekali pemahaman tentang bahasa daerah dan peluangnya di dalam ekonomi kreatif secara daring. Peserta sangat antusias terlihat dari sesi diskusi yang dibawakan oleh Wartono, S.S. selaku pembina Duta Bahasa Sumatera Utara. Tidak hanya itu, hari berikutnya para peserta juga dibekali pelatihan desain grafis dari Praktisi Editor Visual, Rizki Mitra Hamdani, S.I.Kom. Peserta diajarkan untuk membuat sebuah logo yang memiliki unsur bahasa daerah yang dapat dijadikan nilai jual di industri kreatif. 

Selain terkait hal penyuntingan dan desain grafis, beberapa poin dari pelatihan desain grafis ini adalah teknis menggunakan aplikasi Canva sebagai media desain, dan menentukan produk yang cocok sesuai desain yang dibuat. Diskusi antara pemateri dan peserta menghasilkan logo-logo yang menarik dan bagus. Di akhir kegiatan, seluruh karya peserta akan diseleksi dan akan ditindaklnjuti menjadi produk ekonomi kreatif dalam Pameran Niaga Bahasa.

Selain menarik perhatian pengunjung dari berbagai kalangan, pameran Niaga Bahasa ini turut menarik perhatian dari dosen dan pegawai di Fakultas Ilmu Budaya USU. Salah satu dosen dari program studi sastra Melayu mengatakan bahwa beliau sangat mengapresiasi ide serta inovasi yang dibuat oleh Duta Bahasa Sumatera Utara untuk menyebarluaskan bahasa daerah dan memberi pemahaman bahwa bahasa daerah memiliki nilai jual dalam industri kreatif.

“Produk-produk yang dihasilkan sangat menarik karena menampilkan bahasa daerah yang ada di Sumatera Utara”, pungkas Dra. Mardiah Mawar Kembaren, Kepala Program Studi Sastra Melayu.

Desain peserta terbaik ditampilkan dalam produk-produk pameran berupa kaus, tas jinjing, tas serut, Bucket hat, tumbler, dan mug. Seluruh produk mendapatkan umpan balik positif dari para pengunjung pameran.

Peserta dengan karya terbaik

Inovasi Produk Berbasis Bahasa Daerah Karya Anak Muda Sumatera Utara Read More »

Scroll to Top