Ini Bahasa Medan, Bung! (1)

0
2659

Sebagian besar penduduk Kota Medan menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Hal ini terutama disebabkan beragamnya suku-suku yang tinggal di Medan sehingga mereka menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi antarsuku. Perbedaan tekanan/intonasi, susunan kalimat, dan kosakata bahasa daerah yang dimiliki oleh setiap suku, membentuk kekhasan dalam penggunaan bahasa Indonesia di Medan. Hal ini jugalah yang menyebabkan terjadinya dialek-dialek dalam suatu bahasa tertentu.

Tentunya, orang Medan memiliki bahasa yang unik. Tetapi jangan salah sangka, bahasa yang dimaksud di sini bukan bahasa daerah (seperti bahasa Batak). Jadi, ketika kita menyebut “bahasa Medan”, yang dimaksud adalah “bahasa Indonesia ala Medan”. Banyak di antara istilah-istilah ini yang tentu sudah sangat akrab bagi kita. Tapi di Medan, pengertiannya benar-benar berbeda!

Kereta dan BK

Kereta untuk menyatakan sepeda motor bukan ‘kereta lembu’ atau ‘kereta api’. Namun, agar tidak bingung, pengertiannya tidak campur aduk dengan ‘mobil’ yang di Medan disebut sebagai ‘motor’, maka mereka menggunakan istilah yang lengkap; “sepeda motor”. Toko-toko biasanya masih  menggunakan bahasa yang umum dipakai di Indonesia, seperti “motor” untuk “sepeda motor”. Bengkel-bengkel pun tidak ditulis “servise motor” tapi “servise sepeda motor”. Kalau ditulis “service motor”, nanti dianggap servise mobil. Begitupun, tidak sedikit toko atau bengkel yang menggunakan istilah: “Servis Kereta”, “Doorsmeer Kereta”, dan “Menjual Sparepart Kereta”

Ternyata, katanya (kata orang-orang dulu), kata ‘kereta’ digunakan di Medan bermula dari kalangan anak muda di kampus menyebut dengan kata ‘kereta’ sebagai pengganti kata ‘sepeda motor’ yang bersaing dengan kata ‘honda’ yang telah lama populer. Hal itu terjadi pada era 1980, kalangan anak muda yang biasa menggunakan sepeda motor mengganti nama kenderaan roda dua itu sebagai ‘kereta’ dengan menunjukkan rasa tidak membanggakan atas kenderaan miliknya. Kata ‘kereta’ dahulu digunakan untuk kenderaan yang ditarik oleh lembu (sapi). Namun, dalam perkembangannya kata ‘kereta’ itu justru sangat populer dan bergengsi sebagai pengganti kata sepeda motor atau honda.

Istilah BK digunakan untuk menyatakan plat kendaraan bermotor. Plat motor di Medan memang BK. Jadi kita sering ditanya, “Nomor berapa BK kau!”. BK ini sudah umum digunakan, sama seperti aqua untuk menyatakan minuman mineral kemasan atau rinso untuk menyatakan sabun pencuci.

Pajak dan Pasar

Jika dalam bahasa Indonesia kata pasar bermakna tempat pertemuan antara pedagang dan pembeli, namun di Medan kata pasar lebih populer untuk menyatakan jalan raya. Di Medan, ada daerah-daerah yang disebut ‘Pasar 1’, ‘Pasar 2’, ‘Pasar 3’, dan seterusnya. Pengertiannya mungkin lebih kurang sama dengan ‘Blok 1’, Blok 2’, ‘Blok 3’, dan seterusnya.

Untuk menyatakan makna pasar sebagai tempat berkumpulnya antara pedagang dan pembeli, orang Medan lebih memilih kata pajak. Kata pajak sudah lama dipakai sebagai kata ‘pasar’ untuk penutur bahasa Indonesia Medan dan sekitarnya. Mengapa dikatakan ‘pajak’? Karena penjual/pedagang harus memberikan uang iuran rutin, seperti ‘pajak restribusi’, atau ‘pajak preman’. Oleh karena itu, pedagang dan pembeli menyebut dengan kata ‘pajak’ tempat tersebut.

Ya, orang Medan pun dapat dikatakan kurang suka membaca. Mengapa? Karena hampir semua pajak sudah diberi nama dengan ‘pasar’, misalnya Pasar Peringgan, Pasar Aksara, Pasar Sambu, Pasar Sukarame. Tetapi, penutur bahasa Medan masih saja membaca yang tidak ada tulisannya sehingga masih tetap menyebutnya dengan Pajak Peringgan, Pajak Aksara, Pajak Sambu, Pajak Sukarame…

*)Sebagian data tulisan ini dikutip dari hasil penelitian Amran Purba, M.Hum. berjudul Dialek Lisan Medan

AGUS MULIA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini